Indonesia memiliki 60.000 desa dan 220 juta manusia. Pengguna
fb di Indonesia menempati nomor 2 di dunia dengan jumlah 30.1 juta. Aktivitas twitter
di Indonesia mengalahkan Brazil dan Amerika, pengguna twitter di Indonesia
sekitar 2 juta pengguna dan menempati nomor 3 di Asia. Pengguna internet sekitar
45 juta, blogger 2.7 juta, pengguna hp 150-180 juta. Faktor orang ingin eksis,
beraktualisasi diri dan bergaul sangat cepat, begitu ada kebutuhan media social
langsung dikerubuti.
Banyak kisah yang menceritakan betapa membantunya internet
di kehidupan manusia. Salah satunya tukang becak di Jogja pakai facebook, punya
client dari luar negri, orang luar
negri itu datang ke Jogja dan tukang becak itu menjadi gaet (pemandu wisata)
pada turis asing itu. Dia seorang single parent, istrinya korban gempa 2006. Walaupun
single parent dia bisa memenuhi
kebutuhan anaknya, dia pun masih mau dan mampu mempelajari internet, terutama
facebook. Selain sebagai tukang becak, dia mampu mencarikan hotel untuk para
turis. Tukang becak ini mampu menggunakan facebook dan berguna bagi
kehidupannya.
Selain di Jogja, di solo ada kisah yang menarik. Di solo ada
komunitas “blogger bengawan” yang dapat mengumpulkan sumber daya mereka. Dinamai
“bengawan” agar luas, sepanjang Bengawan Solo terdapat beberapa kabupaten. Komunitas
ini terbuka untuk siapapun.
Onno W. Purbo (ICT
watch advisor) ingin 240.000 sekolah di Indonesia punya internet. Jika masing-masing
siswa menulis blog per bulan, dengan begitu ada 46,5 juta halaman blog per
bulan.
Anto dermanto (difable person/blogger), seorang yang
mempunyai kekurangan pada kakinya, bersemangat belajar membuat blog,
mengoperasikan photoshop dan coreldraw graphics. Dalam jangka panjang bisa
mempromosikan diri sendiri.
“Fungsi internet itu begitu indah, bisa mempermudah
berbisnis, bisa sharing, menambah ilmu pengetahuan. Fungsi itu untuk melawan
hal-hal yang negatif.”- Sammy Pangerapan (Indonesia
internet service provider association)
Internet ternyata juga bisa membantu saudara-saudara kita
yang kesusahan. Salah satu contoh kasusnya ada pada Valensia Mieke Randa (blood for life initiator) pemilik
account twitter @bloodforlife akun twitter yang menyediakan jasa mencarikan
donor darah bagi orang yang membutuhkan. Orang yang tidak bisa operasi karena
membutuhkan darah yang susah di cari seperti darah AB resus (-) bisa di
selamatkan oleh Blood for Life. Hanya sekedar terima telepon dan follow up, ternyata hal-hal kecil bisa
berarti sebuah nyawa buat orang lain.
Kisah lainnya ada pada Prita Mulyasari, seorang ibu yang
menulis e-mail dan surat pembaca mengeluhkan layanan sebuah rumah sakit swasta
di Tangerang pada bulan Agustus 2008. Pihak rumah sakit menggugat pidana dan
perdata dengan UU Informasi & Transaksi Elektronik (ITE), hingga Prita
dipenjara 3 minggu dan membayar denda sebesar Rp 204 juta. Melalui gerakan social media, Prita akhirnya bebas dari
segala tuntutan, dan jutaan rakyat Indonesia mengupulkan koin solidaritas untuk
membayar dendanya. Dukungan dari dunia maya sungguh besar sekali. Di facebook
gencar topik “Bebaskan Prita” pada waktu itu. Awalnya Prita hanya fokus pada hukum
tidak memikirkan mencari dukungan lewat dunia maya. Dari kisah Prita ini jelas
terlihat solidaritas Indonesia, tidak ada instruksi khusus untuk mengumpulkan
koin dan suka rela menghitung koin yang sudah dikumpulkan tidak kenal lelah.
Kasus Prita dan kasus lapindo sungguh menarik. Yang mengikuti
lapindo dan prita sama-sama ribuan, tapi lapindo tidak sebanyak Prita. Kasus Prita
bisa dikatakan relatif sukses tapi lapindo tidak jelas sampai sekarang. Hal itu
terjadi karena ada konvergensi media, bukan karena social media. Prita lebih beresonansi dengan pengguna internet.
Dua anggota KPK, Bibit Samad Rianto & Chandra M Hamzah
ditahan atas tuduhan menyalahgunakan wewenang & menerima suap, pada Oktober
2009. Otoritas politik dan kepolisian dituding publing berada di balik
kriminalisasi kedua orang tersebut, dengan target melemahkan institusi KPK. Gerakan
mendukung Bibit-Chandra terjadi di internet hingga jalanan, sebelum akhirnya
kasus ini diputuskan untuk tidak diteruskan ke pengadilan. Bibit Samad Rianto
ini malah tidak tau cara membuka facebook.
Di Yogya, ada akun twitter tentang evakuasi bencana alam,
dan banyak yang merespon. Ada tim evakuasi yang membaca informasi yang
disebarluaskan di twitter dan segera melakukan evakuasi. Selain gerakan
evakuasi harus ada gerakan nasi bungkus. Karna banyak yang mau menjadi relawan,
dibuat formulir online menggunakan googledoc. 5 menit kemudian sudah ada dua
puluh lima, dua minggu dari pendaftaran hampir ada 3000 yang mendaftar. Korban bencana
itu sebagai korban yang terpinggirkan dan tidak bersuara.
Internet kalau digunakan dengan benar, se-optimal mungkin
itu manfaatnya luar biasa. Indonesia mungkin bukan bangsa yang kaya tapi bukan
bangsa yang bodoh. Bangsa ini bisa menjadi contoh, internet itu bisa dipakai
untuk bencana, kemanusiaan, keadilan, kemanusiaan. Kalau pemerintahnya masih
bodoh menghadapi rakyat pintar, gak akan di anut.