Selasa, 22 Januari 2013

Ringkasan Film #Linimassa 1


Indonesia memiliki 60.000 desa dan 220 juta manusia. Pengguna fb di Indonesia menempati nomor 2 di dunia dengan jumlah 30.1 juta. Aktivitas twitter di Indonesia mengalahkan Brazil dan Amerika, pengguna twitter di Indonesia sekitar 2 juta pengguna dan menempati nomor 3 di Asia. Pengguna internet sekitar 45 juta, blogger 2.7 juta, pengguna hp 150-180 juta. Faktor orang ingin eksis, beraktualisasi diri dan bergaul sangat cepat, begitu ada kebutuhan media social langsung dikerubuti.

Banyak kisah yang menceritakan betapa membantunya internet di kehidupan manusia. Salah satunya tukang becak di Jogja pakai facebook, punya client dari luar negri, orang luar negri itu datang ke Jogja dan tukang becak itu menjadi gaet (pemandu wisata) pada turis asing itu. Dia seorang single parent, istrinya korban gempa 2006. Walaupun single parent dia bisa memenuhi kebutuhan anaknya, dia pun masih mau dan mampu mempelajari internet, terutama facebook. Selain sebagai tukang becak, dia mampu mencarikan hotel untuk para turis. Tukang becak ini mampu menggunakan facebook dan berguna bagi kehidupannya.

Selain di Jogja, di solo ada kisah yang menarik. Di solo ada komunitas “blogger bengawan” yang dapat mengumpulkan sumber daya mereka. Dinamai “bengawan” agar luas, sepanjang Bengawan Solo terdapat beberapa kabupaten. Komunitas ini terbuka untuk siapapun.

Onno W. Purbo (ICT watch advisor) ingin 240.000 sekolah di Indonesia punya internet. Jika masing-masing siswa menulis blog per bulan, dengan begitu ada 46,5 juta halaman blog per bulan.

Anto dermanto (difable person/blogger), seorang yang mempunyai kekurangan pada kakinya, bersemangat belajar membuat blog, mengoperasikan photoshop dan coreldraw graphics. Dalam jangka panjang bisa mempromosikan diri sendiri.

“Fungsi internet itu begitu indah, bisa mempermudah berbisnis, bisa sharing, menambah ilmu pengetahuan. Fungsi itu untuk melawan hal-hal yang negatif.”- Sammy Pangerapan (Indonesia internet service provider association)

Internet ternyata juga bisa membantu saudara-saudara kita yang kesusahan. Salah satu contoh kasusnya ada pada Valensia Mieke  Randa (blood for life initiator) pemilik account twitter @bloodforlife akun twitter yang menyediakan jasa mencarikan donor darah bagi orang yang membutuhkan. Orang yang tidak bisa operasi karena membutuhkan darah yang susah di cari seperti darah AB resus (-) bisa di selamatkan oleh Blood for Life. Hanya sekedar terima telepon dan follow up, ternyata hal-hal kecil bisa berarti sebuah nyawa buat orang lain.

Kisah lainnya ada pada Prita Mulyasari, seorang ibu yang menulis e-mail dan surat pembaca mengeluhkan layanan sebuah rumah sakit swasta di Tangerang pada bulan Agustus 2008. Pihak rumah sakit menggugat pidana dan perdata dengan UU Informasi & Transaksi Elektronik (ITE), hingga Prita dipenjara 3 minggu dan membayar denda sebesar Rp 204 juta. Melalui gerakan social media, Prita akhirnya bebas dari segala tuntutan, dan jutaan rakyat Indonesia mengupulkan koin solidaritas untuk membayar dendanya. Dukungan dari dunia maya sungguh besar sekali. Di facebook gencar topik “Bebaskan Prita” pada waktu itu. Awalnya Prita hanya fokus pada hukum tidak memikirkan mencari dukungan lewat dunia maya. Dari kisah Prita ini jelas terlihat solidaritas Indonesia, tidak ada instruksi khusus untuk mengumpulkan koin dan suka rela menghitung koin yang sudah dikumpulkan tidak kenal lelah.

Kasus Prita dan kasus lapindo sungguh menarik. Yang mengikuti lapindo dan prita sama-sama ribuan, tapi lapindo tidak sebanyak Prita. Kasus Prita bisa dikatakan relatif sukses tapi lapindo tidak jelas sampai sekarang. Hal itu terjadi karena ada konvergensi media, bukan karena social media. Prita lebih beresonansi dengan pengguna internet.

Dua anggota KPK, Bibit Samad Rianto & Chandra M Hamzah ditahan atas tuduhan menyalahgunakan wewenang & menerima suap, pada Oktober 2009. Otoritas politik dan kepolisian dituding publing berada di balik kriminalisasi kedua orang tersebut, dengan target melemahkan institusi KPK. Gerakan mendukung Bibit-Chandra terjadi di internet hingga jalanan, sebelum akhirnya kasus ini diputuskan untuk tidak diteruskan ke pengadilan. Bibit Samad Rianto ini malah tidak tau cara membuka facebook.

Di Yogya, ada akun twitter tentang evakuasi bencana alam, dan banyak yang merespon. Ada tim evakuasi yang membaca informasi yang disebarluaskan di twitter dan segera melakukan evakuasi. Selain gerakan evakuasi harus ada gerakan nasi bungkus. Karna banyak yang mau menjadi relawan, dibuat formulir online menggunakan googledoc. 5 menit kemudian sudah ada dua puluh lima, dua minggu dari pendaftaran hampir ada 3000 yang mendaftar. Korban bencana itu sebagai korban yang terpinggirkan dan tidak bersuara.

Internet kalau digunakan dengan benar, se-optimal mungkin itu manfaatnya luar biasa. Indonesia mungkin bukan bangsa yang kaya tapi bukan bangsa yang bodoh. Bangsa ini bisa menjadi contoh, internet itu bisa dipakai untuk bencana, kemanusiaan, keadilan, kemanusiaan. Kalau pemerintahnya masih bodoh menghadapi rakyat pintar, gak akan di anut.